KEJUTAN KEBUDAYAAN DESA BINUANG KABUPATEN BARRU





Halo selamat berjumpa teman-teman, sahabat-sahabatku, saudara-saudariku semoga sampai  detik ini kita masih diberi karunia oleh Allah untuk menyempatkan membaca kiriman saya pada hari ini. Bulan ini  adalah musim bulan final, jadi kebetulan kami di beri tugas mengisi website yang telah dibuat dengan mata kuliah aplikasi web. Kebetulan juga judul website kelompok saya adalah our culture, yang namanya kulture otomatis berbicara tentang kebudayaan.kesempatan yang sangat bagus buat kalian yang ingin mencari tau informasi mengenai kebudayaan yang ada di sulawesi selatan, tetapi Saat ini saya diberi kesempatan meceritakan kebudayaan yang ada di daerah saya pada paragraf selanjutnya saya akan memperkenalkan kota kelahiran saya.


Kabupaten Barru adalah kota yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan sebagai kota terpanjang dan memiliki banyak destinasi keindahan alam, dengan julukan kota Hibridah hijau, bersih,dan  indah. Kota Barru memiliki 7 kecamatan, yaitu, Tanete Riaja, Tanete Lilau, Barru, Balusu, Mallusetasi, Soppeng Riaja. Balusu adalah kecamatan kelahiran saya letaknya desa Binuang, kentalnya kebudayaan di Kecamatan Balusu rasanya ingin bercerita tentang kebudayaan disana.


Banyak budaya atau ritual yang sering dilakukan oleh masyarakat Binuang, yang mennurut kepercayaanya adalah turunan dari nenek moyang terdahulu. salah satu keadaan yang sekarang adalah Bulan ramadhan, saat ini kita umat muslim sedang memasuki bulan yang suci, Tak lepas kebudayaan yang sering digunakan masyarakat ketika menyambut bulan yang suci dinamai  Baca-baca yang merupakan ritual turun temurun dari masyarakat desa Binuang ketika memasuki bulan ramadhan ritual mereka adalah “Madduppa Keteng”  jadi mereka menyajikan semacam songkolo dengan cairan gula merah, biasa juga dilengkapi dengan ayam yang sudah diolah menjadi makanan, ikan, dan pisau lengkap dalam 1 baki. Tak hanya 1 baki yang di sajikan biasanya 1-8 baki paling maksimalnya, disajikan keruang tengah rumah kemudian ambil dupa terus dibaca-bacai makanan tersebut seperti halnya agama hindu menggunakan dupa yang dibakar kemudian diangkat lalu di kelilingi ke makanan yang disajikan, setelah itu baru bisa disantap atau dinikmati. Ini merupakan budaya ketika memasuki bulan suci ramadhan.
Pertengahan ramadhan masyarakat Binuang juga mempunyai ritual dimana ketika pertengahan bulan ramadhan masih menyajikan makanan namun jenis makananya adalah kue, masih seperti ritual yang pertama yakni menyajikan beberapa macam kue, tetapi kue yang wajib ketika pertengahan bulan ramadhan adalah “Apang” makanan jenis ini biasa di padukan dengan kelapa muda yang diparut rasanya sangat nikmat. Disajikanlah kue-kue kedalam baki  1-8 baki kemudian dibacai-bacai, di bakarkan dupa  lalu dupa diangkat kemudian dikelilingi kemakanan tersebut, setelah itu harus ada orang lain yang “Mappasoro” jadi setelah dibacai-bacai tak langsung dimakan ada rounde 2 harus di Pasoro. Dulu mereka memercayai bahwa kue yang  dibaca-bacai ini disajikan untuk maha kuasa dan keluarga almarhum yang telah meninggal dunia setelah dibaca-bacai akan sampai melalaui bacaan yang dibacakan oleh seorang pembaca, agar almarhum turt merasakan apa yang dinikmati sang keluarga.
Akhir bulan ramadhan yakni hari lebaran, ketika malam takbiran kemudian kita memasuki desa Binuang kita akan dihadapkan semacam cahaya pelita yang gemerlapan di setiap rumah, indah sekali dipandang, entah apa arti dari cahaya itu penulis belum menelusuri lebih lanjut namun bahan dari cahaya itu tak sembarangan karena cahaya itu terbuat dari Kemiri yang ditumbuk dengan kapas  sampai menyatu lalu di rekatkan dengan bambu yang sudah berbentuk stick tipis dan tinggi, pada sore hari mnejelang magrib barulah di bakar. direkatkan kesetiap tiang rumah dan setiap tangga. Ritual seperti orang india yang melakukan upacara-upacara menyalakan lilin disetiap sudut rumah, perbedaan nya ini hanya menggunakan bahan kemiri, mungkin pada saat zaman  nenek  moyang belum ada lilin.
Malam takbiran masyarakat Binuang menghabiskan waktunya untuk menyiapkan makanan untuk dipersembahkan lagi untuk almarhum yang telah meninnggal berbagai macam makanan yang telah dibuatkan, ada opor ayam, ikan bakar, goreng, abon, pokoknya segala macam, disajikan lagi kedalam  baki hinga 1-8 baki, lalu dibaca-baca i seperti halnya ritual awal bulan ramadhan. Hari raya idul fitri biasanya mereka disibukkan lagi dengan pergi berziarah kubur dimanapun almarhum keluarga di kuburkan.
Ziarah kubur boleh dalam ajaran islam dengan maksud untuk mengingat kematian dan dijadikan sebagai intropeksi bahwa kita manusia tidaklah abadi, pasti akan merasakan kematian namun masyarakat di Binuang berpresepsi keyakinan bahwa ketika kita bersiarah kubur kemudian memandikan almarhum dengan menyiram air ke kuburanya lalu dibacakan surah-alqur’an, kemudian disimpan “Minyak Bau” daun pandan kemudian “benno” terus uang 2000 hingga 10.000 kedalam 1 piring. setelah dibacakan ayat suci alqur’an barulah uang tersebut diambil kemudian di berikan oleh sipembaca alqur’an atau dibagikan ke anak-anak keluarga yang  masih kecil. Setelah semua selesai baru mereka pergi.
Lain dengan siarah kubur untuk keluarga dekat lain pula bersiarah untuk kaum yang dianggap berpengaruh seperti halnya keluarga Andi yang memang pintar membawa berkah, dengan melalui keluarga itu biasanya apa yang diinginkan dapat terkabul, contoh kasus yang pernah saya amati ketika seorang nenek yang hampir meninggal lalu diberikan air dimana air tersebut telah di baca-bacai oleh keluarga Andi.  Tak lama kemudian hari, nenek tersebut kuat kembali dan menjalani aktifitasnya selama 1 tahun lebih. Anggapan yang ada secara kebetulan atau memang air itu dan orang itu adalah perantara kuasa ALLah Azza Wajjala untuk menyembuhkan kakek yang sakit tersebut.
Ketika keluarga Andi ini wafat maka semua warga ketika pergi bersiarah bermcam-macam pula cara menghormatinya bahkan mereka harus bersujud dan memanjatkan permintaan dan  mengucapkan janji apabila di kabulkan. Diyakini bahwa melalui perantara ini akan dapat dikabulkan keinginanya. Seperti halnya mereka juga memberi uang 5000-20000 ke dalam sebuah piring.
Apalah daya nasi sudah jadi bubur tak ada yang dapat mencegah dari kebudayaan yang di anut oleh masyarakat setempat kita yang sebagai pelanjut generasi muda hendaklah memahami betul-betul kebudayaan yang kita anut apakah sesuai dengan perpektif islam atau tidak. kita tidak dapat menyalahkan serta tidak dapat membenarkan apa yang sudah mereka lakukan, kami baru lahir dan orang baru yang merasakan asinnya garam. 
 Hanya ini yang dapat saya paparkan pada kesempatan kali ini semoga bisa dijadikan sumber yang bermanfaat dan mengisnpirasi bagi pembaca sekalian.


Komentar